Press "Enter" to skip to content

Wonder Woman 1984 – Gara- Gara Batu Dunia Kacau Balau

Cerita Wonder Woman kali sedikit berbeda dengan cerita di film-film sebelumnya. Masih belum move on dengan kekasihnya yang telah menghilang, di Wonder Woman (WW) 1984 ini ia malah bertemu kembali dengan Steve dengan bantuan sebongkah batu.

Alkisah di suatu negeri bernama Themyscira diadakan sebuah perlombaan semacam Amazon Warrior gitu lah. Lompat-lompatan, berenang, berkuda dan semacamnya yang menjadi nilai kemenangannya. Salah satu pesertanya adalah  Princess Diana (Lilly Aspell) yang masih imut (sebelum kenal manusia namanya masih Diana doang). Lompat sambil salto dan berenang si Diana imut ini masih bisa lolos, hingga pada suatu momen ia terjatuh dari kudanya dan sempat tertinggal jauh dari lawan-lawannya. Nggak kehabisan akal, Diana tidak sengaja melihat sebuah jalan pintas yang dipakainya untuk mengejar ketertinggalan. Singkatnya, Diana berhasil sampai di garis finish. Namun, oleh pihak panitia ia didiskualifikasi karena terindikasi melakukan kecurangan dalam perlombaan. Alhasil gagallah ia untuk menjadi Amazon Warrrior. Disini ia belajar bahwa nilai sebuah kejujuran diperlukan dalam suatu perjuangan serta masa yang akan berpihak padanya.

No true hero is born from lies

Antiope

Wonder Woman muncul di mal

Tahun berjalan, Diana (Gal Gadot) kini menjadi seorang perempuan pembela kebenaran serta penolong bagi siapa saja yang membutuhkan. Untuk menyamarkan identitas supernya, ia bekerja sebagai antropologi disebuah museum di Amerika sana. Dimana letak kotanya, saya sendiri kurang tahu tepatnya, silahkan googling aja. Settingnya kembali ke tahun 1980 an dimana mal-mal masih menjadi tempat hits untuk nongkrong anak muda, celana baggy dan video games. Walau puluhan tahun berlalu, namun Diana masih belum move on untuk melupakan Steve Trevor ( Chris Pine) kekasihnya yang telah meninggal silam.

Di museum ini ia juga berkenalan dengan seorang pegawai baru, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Semula hubungan keduanya baik-baik saja, terlebih Diana banyak membantu Barbara sebagai pegawai baru. Sikapnya mulai berubah setelah Diana mengetahui memberikan batu kecubung (ada yang bilang batu permintaan) kepada Maxwell Lord (Pedro Pascal). Batu yang memiliki kekuatan ajaib bagi siapa saja yang memohon kepada batu tersebut, termasuk Diana yang menginginkan Steve kembali.

Hidupnya Steve Trevor

Gara-gara keinginannya yang tak disengaja itu, Steve Trevor kembali muncul menemui Diana, hanya saja ia hidup dalam raga yang lain. Tentu saja membuat Diana senang bukan main. Bayangin deh, puluhan tahun nggak ketemu, pingin ketemuan, malah akhirnya muncul beneran. Mereka berdua akhirnya berusaha mencari batu tersebut yang telah diambil Maxwell untuk memenuhi ambisinya menguasai dunia. Baik Maxwell dan Minerva memang memiliki keinginan masing-masing layaknya manusia yang haus akan ambisi. Mulai dari Maxwell yang ingin memiliki kekuasaan melebihi pemimpin negara sampai Minerva yang berubah total menjadi perempuan macan yang liar.

Batu tersebut memang mengabulkan semua permintaan, akan tetapi ada harga yang harus dibayar dari setiap permintaan yang menjadi kenyataan. Barbara Minerva memang menjadi perempuan percaya diri namun, ia harus kehilangan sisi kemanusiaannya yang semula melekat pada dirinya. Maxwell bisa menjadi manusia yang memiliki kekuasaan besar, toh akhirnya ia harus merelakan kehilangan orang yang disayangi jika terus memenuhi ambisinya.

Steve Trevor bisa saja terus hidup Bersama Diana namun si Wonder Woman ini harus kehilangan wondernya jika mereka tetap bersama.  

Walau dengan berat hati akhirnya Diana harus melepas Steve untuk mendapatkan kekuatannya kembali terlebih lagi dunia memang sedang kacau balaunya akibat ulah Maxwell.

Munculnya Linda Carter

WW 1984 mungkin untuk saya film yang biasa-biasa saja. Tidak ada unsur kejutan yang bisa bikin berdecak. Munculnya Steve Trevor secara tiba-tiba yang seolah dipaksakan malah bikin saya keinget filmnya Scot Bakula di Quantum Leap silam. CGI-nya sendiri masih terbilang standar, lompat-lompatan sambil melempar laso hingga Diananya melayang ke angkasa. Patty Jenkins seperti kehilangan ide cerita dengan memaksa semua elemen yang semula tidak ada di WW 2017 dimasukkan di WW 1984. Munculnya batu kecubung dari pencurian di sebuah mal hingga masuk museum. Atau Barbara yang tiba-tiba menjadi sosok manusia Cheetah, padahal menurut pakemnya ia mengalami kutukan dalam perjalanannya ke Afrika.

Namun menurut saya yang cukup menarik adalah adegan perkelahian WW dengan Cheetah saat WW melepas sayap asterianya. Peran WW memang tetap layak disandangkan kepada Gal Gadot dan Lilly Aspel si pemeran Diana imut.

Kristen Wiig sebagai sang Cheetah juga patut jadi perhatian, sebab yang saya tahu Wiig memang kerap membintangi film-film komedi, di WW 1984 ini tantangan untuk berperan antagonis.

Walau film ini nggak bagus-bagus amet dibanding yang 2017 paling tidak saya bisa lihat senyumnya Linda Carter setelah post credit scene.

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *