Press "Enter" to skip to content

Review Film Fear Street Part 1: 1994

credit: Netflix

Netflix kembali menghadirkan tontonan horor untuk para subscribernya. Film Fear Street Part 1: 1994 yang merupakan adaptasi novel R.L Stine ini mengambil setting tahun 1990 an. Karya-karya RL Stine memang dikenal sebagai horror berlatar belakang kehidupan remaja Amerika.

Plot

Ceritanya tidak jauh beda dengan cerita sebuah kota yang terkena kutukan seperti difilm Castle Rock nya Stephen King. Sebagai main plot adalah kutukan yang dijatuhkan dari seorang penyihir bernama Sarah Fier yang sepertinya dendam akan penduduk kota. Kata “sepertinya” akan saya jelaskan lebih jauh nanti pada tulisan berikutnya.

Konflik Warga Dua Kota

Seorang SPG toko buku dibunuh secara brutal oleh temannya sendiri di sebuah mal di sebuah kota Shadyside. Sebenarnya pembunuhan ini adalah rangkaian pembunuhan yang pernah terjadi sebelumnya di kota tersebut. Kota ini memang dikenal sebagai kota kumuh. Penduduknya didominasi oleh mereka yang berstrata social menengah kebawah. Berbeda dengan Sunnyside, kota tetangganya.  Sunnyside lebih makmur, penduduknya berpendidikan dan berkecukupan. Tingkat kejahatan yang rendah bahkan hampir tidak ada. Tidak mengherankan jika kesenjangan ini menjadi salah satu pemicu konflik dua kota tersebut.

Deena (Kiana Madeira) adalah seorang warga Shadyside yang baru saja putus dari kekasihnya Sam (Olivia Scott Welch) yang dulunya pernah tinggal di Shadyside lantas pindah ke Sunnyside untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Deena sebenarnya masih belum bisa move on dari Sam. Apalagi saat dirinya melihat Sam sedang bermanja-manjaan dengan pacar barunya di sebuah acara pertemuan mengenang tragedy pembunuhan. Dari sini dimulailah serangkaian-serangkaian pembunuhan kembali terjadi antar dua kota dan sekolah.

Penuh Adegan Kekerasan

Namanya film horror pasti tidak akan bisa lepas dari adegan pembunuhan. Di sepuluh menit pertama adalah prolog yang menegangkan di film ini. Si pembunuh yang sedang mengintai korbannya, memburunya, lantas menghabisinya. Saya bisa bilang ini adalah adegan pembunuhan tersadis selama saya nonton film-film Netflix. Si pembunuh yang tidak segan-segan menghantam lutut dengan kapak, menggorok leher bahkan menikam perut si korban berkali-kali. Semuanya divisualisasikan dengan gamblangnya oleh sang sutradara.

Cinta Sesama Jenis

Sepertinya Netflix mulai berani mengangkat tema-tema hubungan sesama jeruk. Seperti hubungan Deena dan Sam yang saling menyukai. Hubungan ini lantas ditentang oleh orang tua Sam yang mungkin menjadikankan alasan Sam pindah dari Shadyside.  Awalnya yang terlintas di kepala saya saat Deena menyebut nama Sam adalah seorang lelaki, ternyata. Ada juga pasangan Kate (Julia Rehwald) dan Simon (Fred Hechinger) yang berjualan obat terlarang sebagai bekal masa depan mereka.

Jump Scare

Horor tanpa jumpscare nggak seru dong. Yah, menurut saya yang seru sih di lima menit pertama film dimulai. Jump scarenya cukup ngena. Selebihnya? Biasa aja.

Film Fear Street Part 1: 1994 memang bisa dikatakan sebagai film horor kebanyakan, namun ada beberapa bumbu yang entah sengaja atau tidak disisipkan sebagai pelengkap cerita agar bisa tetap tersaji. Plotnya juga masih terlalu umum, kota yang terkena kutukan oleh penyihir, mayat-mayat yang dihidupkan kembali dan tokoh yang disimpan untuk menjadi juru kunci di masa depan. Ada juga adegan untuk tetap hidup dengan cara mematikan diri, jadi ingat film Awake-nya Mark Raso silam.  Terlepas dari kurang atau lebihnya film ini secara umum bisa saya bilang lumayan lah buat isi waktu selama PPKM.

Director  : Leigh Janiak
Writers    : Evan Spiliotopoulos, James Herbert
Stars         : Kiana Madeira, Olivia Scot Welch, Benjamin Flores
Horror, thriller, mystery
R
1:47
2021 
 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!