Press "Enter" to skip to content

Get Out, obsesi abadi sebuah keluarga psikopat

Rating: R
Genre: Horror, Mystery & Suspense
Directed & Wtitten By: Jordan PeeleIn Theaters: Feb 24, 2017 wide
Runtime: 104 minutes
Studio: Universal Pictures

Keluarga psikopat. Kalau selama ini kita sering menonton film bergenre horror dengan ending twisted, maka saya jadikan pengecualian untuk film yang satu ini. Film Get Out merupakan film horor thriller yang tidak seperti film-film lainnya yang penuh adegan sadisme berdarah-darah. Plotnya tersusun rapi mulai dari awal hingga akhir cerita. Bercerita tentang keluarga yang terobsesi untuk tetap hidup abadi.

Chris (Daniel Kaluuya) adalah seorang fotografer kulit hitam yang tengah menjalin hubungan dengan Rose (Allison Williams) seorang gadis kulit putih. Hubungan mereka dirasakan serius hingga Rose mengajak Chris untuk menemui keluarga yang tinggal jauh dari perkotaan. Walau dirasakan oleh Chris akan sulit karena Rose selama ini belum memberitahukan perihal hubungan mereka kepada orang tuanya, ia menyetujui untuk menemui keluarga Rose. Kunjungan Chris di keluarga ini ternyata tidak semulus yang dibayangkan karena dirinya mengalami kejadian-kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mulai dari perjalanan yang sempat mengalami kecelakaan sampai diberhentikan oleh polisi rasis.

 

Review Film Us

Siapa yang percaya kalau setiap orang di dunia ini memiliki kembaran? Kembaran disini bukan kembaran yang terlahir kembar, melainkan orang yang mirip dengan kita secara fisik dan berada di belahan bumi yang lain. Film Us mengangkat tema mengenai fenomena kembaran ini. Film yang disutradarai oleh Jordan Peele ini tidak kalah serunya dengan film Get Out (2017) silam.

Sebagai mukadimah penonton disuguhi narasi mengenai lorong bawah tanah yang terbengkalai di kota New York. Di sebuah taman hiburan satu keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan anak perempuannya sedang bermain di taman tersebut. Tanpa disadari Si anak perempuan pergi ke sebuah wahana semacam rumah misteri seperti itulah. Ia menyusuri lorong demi lorong di wahana tersebut sampai akhirnya ia menghentikan langkahnya yang dikiranya sebuah cermin.

Adegan beralih kemasa sekarang dimana Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o) bersama suaminya Gabe  Wilson (Winston Duke) dan kedua anaknya, Zora (Shahadi Wright Joseph) serta Jason (Evan Alex) pergi berlibur ke sebuah kabin. Mereka juga mengunjungi sebuah pantai dekat kabin untuk bertemu dengan keluarga Josh Tyler (Tim Heidecker). Ingatan Adelaide kembali ke masa kecilnya dulu sesaat dirinya sempat menghilang hingga mengkhawatirkan kedua orangtuanya. Disinilah awal mula teror keluarga Adelaide pun dimulai.

Munculnya para doppelganger

Suasana liburan mendadak menjadi teror mematikan setelah munculnya sekelompok orang yang menyerupai keluarga Wilson. Secara fisik mereka nyaris sama dengan anggota keluarga Wilson. Yang membedakan adalah prilaku mereka serta pakaian mereka yang semuanya berwarna merah serta membawa gunting sebagai senjata. Tanpa tedeng aling kelompok itu pun langsung menawan keluarga Wilson.  Diketahui tujuan kedatangan mereka adalah untuk merebut kenikmatan yang selama ini telah dinikmati oleh dunia atas saja.

Kaum doppelganger ini sebenarnya adalah hasil percobaan sekelompok orang yang untuk keperluan sewaktu-waktu, doppelganger alias manusia cloningan ini telah siap untuk digunakan. Sayangnya, pihak yang melakukan percobaan tersebut meninggalkan mereka begitu saja hingga membiarkan mereka bertahan hidup secara liar di terowongan bawah tanah. Hingga salah satu dari mereka, keluar dari kelompok lalu bertemu dengan yang aslinya.

Menegangkan tetapi tidak seratus persen

Walau terkesan sadis dan kejam film ini masih sempat memasukkan beberapa bumbu komedi ke dalamnya. Alhasil tensi adrenalin yang saat itu sedang naik mendadak jadi turun karena unsur ini, salah satunya pembawaan Winston Duke sebagai party crasher. Bayangkan ketika nyawanya sedang di ujung maut, dia malah becandain yang mau bunuhnya. Memang banyak adegan berdarah-darah dan tikam menikam, tetapi tidak semua secara vulgar bisa ditemukan disini. Misalnya, adegan Adelaide yang menghajar doppelganger sampai mati tanpa memperlihatkan si doppelganggernya itu sendiri.

Kualitas akting Lupita Nyong’o bisa dibilang nampol, apalagi saat ia memerankan dua karakter sebagai Adelaide, dan doppelganger-nya dengan mata melotot tajam dan suara serak.

Us berbeda dari Get Out

Us memang berbeda dari film Get Out. Walau sama-sama mengangkat konsep thriller dicampur science, pesan yang saya tangkap dari film Us ini adalah adanya berbagai kesenjangan yang terjadi sekarang ini. Kaum doppelganger yang selama ini tinggal dibawah tanah adalah metafora kaum marjinal yang memang hidup dalam kemiskinan dan terpinggirkan. Berbeda dengan mereka yang berada di atas sana, mayoritas hidup serba berkecukupan. Berlebihan tidak, jika saya simpulkan bahwa judul film Us ini sebenarnya merujuk kepada suatu negara?

Kaum marjinal ini bisa saja bersatu untuk melawan system yang selama ini ada. Simbolnya bisa dilihat lewat hands across America. Terbukti jika selama ini para doppelgangers memang merencanakan secara matang agar tujuan mereka tercapai.

Pada akhirnya saya hanya bisa tersenyum puas ketika menjelang ending keberadaan kaum dopplegangger ini dijelaskan secara gamblang oleh si pemimpin. Saat Adelaide berhasil menemukan Jason yang diculik, sambil menyetir, ia tersenyum puas ke arah Jason dengan mimik bahagia.  

Director  : Jordan Peele
Writer      : Jordan Peele
Stars        : Lupita Nyong’o, Winston Duke, Shahadi Wright Joseph, Eva Alex
Horror, thriller, 
R-17+
1:56
2019
All picure was taken from imdb 

 

The Darkest Minds, sisi lain anak-anak berkemampuan super

Rating: PG-13 Genre: Science Fiction Fantasy
Directed By: Jennifer Yuh Nelson
Written By: Chad Hodge
In Theaters: Aug 3, 2018  Wide
Studio: 20th Century Fox

The Darkest minds merupakan film yang menceritakan generasi millenial dengan berbagai macam kekuatan super yang dimilikinya memang sedang menjadi trendsetter di Hollywood. YA atau young adult fiction kerap dijadikan latar sebuah film untuk menarik para penonton, khususnya para generasi muda tadi. Secara sederhananya cukup menakutkan buat saya jika melongok kebelakang film-film bertema YA ini yang telah mendominasi pangsa pasar perfilman Hollywood. Walau pada kenyataannya sebagian sukses meraup untung sedangkan sisanya tentu jeblok di pasar.

Dikisahkan, sebuah “penyakit” misterius menyapu jutaan anak-anak di Amerika, mereka yang berhasil selamat adalah yang memiliki kekuatan super namun dianggap berbahaya oleh pemerintah, oleh karenanya mereka dikirim ke sebuah kamp untuk diasingkan. Mereka yang diasingkan tersebut lalu dipisahkan berdasarkan warna serta kemampuan mereka masing-masing. Warna merah adalah sipengendali api, oranye pengendali pikiran yang notabene wajib dilenyaplan, kuning penghantar listrik, biru si telekinetik sedangkan hijau adalah mereka yang berintelegensia tinggi. Ruby Daly (Amandla Stenberg) adalah seorang remaja yang berhasil selamat diantara yang lainnya. Dengan kemampuan istimewanya, ia berhasil memanipulasi pikiran orang-orang sekitar agar tetap selamat. Lewat bantuan Cate (Mandy Moore) yang seorang dokter ia berhasil diselundupkan keluar dari kamp. Walau demikian Ruby tidak mempercayai begitu saja kepada Cate yang menolongnya

Pada satu kesempatan, ia berhasil melarikan diri hingga bertemu dengan tiga anak super lainnya; Liam (Harris Dickinson) yang berwarna biru, Charles atau “Chubs” (Skylan Brooks) berwarna hijau dan Suzume atau “Zu” (Miya Cech) berwana kuning. Mereka berempat bukan saja harus lari dari kejaran Cate akan tetapi harus lari dari para bounty hunter dan tracer yang selalu memburu anak-anak berkemampuan super lainnya.

Berempat mereka berusaha menemukan tempat yang selama ini merupakan sanctuary bagi anak-anak seperti mereka. Singkatnya tempat tersebut berhasil ditemukan, namun tidak seperti apa yang mereka impikan. Ternyata sanctuary ini hanyalah ladang untuk melenyapkan mereka.

Awalnya memang serasa menjanjikan, tetapi dipertengahan film ini terasa tidak cukup menghasilkan powernya. Plot filmnya kurang, seolah-olah hanya menggores di permukaan saja,  seperti saat Ruby tidak sengaja menghapus memori orang tuanya akan dirinya. Parahnya lagi momen traumatis penolakan yang menghantui dirinya sampai akhir film yang seolah memaksakan emosi penonton. Akting pemainnya pun datar saja. Kehadiran Mandy Moore ataupun Bradley Whitford sebagai pemeran dewasa kurang kental untuk dimanfaatkan. Berbeda ketika Bradley bermain di film Get Out, mungkin berbeda jika porsi aktingya tidak terbatas di film ini. 

Darkest minds setidaknya mencoba mengangkat kembali kejayaan film-film YA pada masanya walau tidak semulus yang diharapkan. Adegan perkelahian antar manusia anti klimaks, apalagi saat Ruby berhadapan dengan Clancy, pertarungannya jauh dari ekpektasi saya akan film-film sejenis. Tetapi setidaknya the Darkest minds masih bisa dibilang sebagai pengisi liburan akhir pekan dan terbilang lumayan.

[yasr_overall_rating null size=”medium”]

 
error: Content is protected !!